Jakarta – Reskeu.org, “Saham Goreng” sebuah istilah tak asing ditelinga investor. Potensi ambil untung dari investasi saham gorengan sangat menggiurkan. Jika kita mengetahui timing saat masuk dan keluar yang tepat, kita bisa memperoleh profit luar biasa. Namun tentu harus memakai strategi yang benar agar kita tidak menjadi mangsa sang bandar pengoreng saham.

Seperti “gorengan” makanan yang banyak orang suka walaupun dengan kandungan kolesterol tinggi penyebab berbagai penyakit datang di tubuh kita. Tetapi jika dikonsumsi dengan kadar yang tepat apa salahnya jika kita nikmati? Bigitu pula “saham gorengan” tak salah kita beli jika kita ingin profit tinggi.

Menurut praktisi pasar modal Ryan Filbert, cara termudah melihat saham apa yang “sedang digoreng” sangat mudah. Lihat saja kinerja keuangan perusahaan. Lalu bandingkan dengan harga saham saat ini. Jika kinerjanya biasa-biasa saja atau bahkan buruk, namun harga sahamnya terus menguat itu sudah pasti digoreng. Atau harga sahamnya bagus, tetapi laporan keuangannya jelek, tiba-tiba mau nerbitin MTN (Medium Term Notes), itu tanda tanya besar. Itu sangat rawan.

Untuk melihat nilai kewajaran sebuah saham bisa kita lihat dari laporan keuangannya. Indikator Price Earning Ratio (PER) dengan harga saham dibagi laba persaham, lalu bandingkan dengan emiten lain di industri sejenis.

Kita bisa lihat dari Price to Book Value (PBV), harga saham dibagi nilai buku per saham, lalu bandingkan dengan emiten sejenis. Jika PER dan PBV-nya lebih besar dari emiten lain berarti saham perusahaan itu terindikasi digoreng.

Dan perlu kita tahu, biasanya saham-saham yang digoreng merupakan saham kecil dan tidak likuid. Hal itu dilakukan oleh oknum pengoreng saham agar leluasa melancarkan praktiknya. Dan jika ada pemain lain yang punya lebih besar, ya agak susah untuk dilakukan.

Selain itu, tanda-tanda saham sedang digoreng biasanya dibalut dengan rumor yang belum tentu benar. Rumor sengaja dihembuskan agar investor kecil semakin percaya untuk membeli saham-saham gorengan tersebut.

Dan sangat sulit bagi kita semua untuk menentukan sampai level mana kenaikan saham yang sedang digoreng. Tidak ada rumus pasti untuk menganalisanya. Sangat sulit ditentukan. Dan paling mendekati pakai hitungan technical fibonacci. Mengandai-andai pakai teori matematika dalam sebuah perdagangan yang aneh. Karena pasar itu invisible hand. Kita enggak tahu hatinya si bandit. (ADM)

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here