RESKEU.ORG, Jakarta – Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada tahun ini hanya Rp 42,32 triliun atau 5% dari penerbitan SBN bruto sebesar Rp 846,4 triliun. Tidak jauh berbeda dengan target indikatif sebesar Rp 40 triliun di tahun lalu.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Loto Srinaita Ginting mengatakan, indikasi SBN ritel Rp 42,32 triliun berdasarkan perhitungan terkini pemerintah.

Jadwal penerbitan Surat utang negara untuk investor ritel tersebut masih sama. Penerbitan sukuk ritel (Sukri) pada Maret 2018, obligasi ritel online pada Mei 2018, dan obligasi negara ritel (ORI) pada Oktober 2018.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu Scenaider Siahaan mengatakan, komposisi penerbitan itu meliputi target indikatif Sukri Rp 20 triliun, ORI Rp 20 triliun, dan sisanya dari obligasi ritel online.

Menurutnya, pembatalan peningkatan porsi SBN ritel adalah untuk mengantisipasi keluarnya dana asing di SBN yang saat ini mencapai sekitar 39%. “Kalau nanti misalnya investor asing sudah bosan dengan kita, jadi penggantinya masih banyak yang dari domestik,” kata Scenaider.

Sumber: kontan.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here