RESKEU.ORG, Jakarta – Fenomena sepinya pusat-pusat perbelanjaan baik di Indonesia maupun dunia menjadi sorotan berbagai media. E-commerce dituding sebagai penyebabnya.

Satu per satu peritel gulung tikar, tak kuasa bersaing dengan raksasa e-commerce. Konsumen sangat dimanjakan oleh inovasi berbagai kemudahan belanja online. Semua dapat dibeli melalui gadget, tanpa harus stress di jalan karena macet.

Menurut Bloomberg, sedikitnya 10 persen ruang ritel Amerika Serikat perlu ditutup, dikonversi menjadi fungsi lain, atau dinegosiasi ulang.

Hampir 9.000 toko diperkirakan tutup sepanjang 2017, sepertiga lebih banyak dibandingkan saat krisis ekonomi 2008.

Runtuhnya bisnis ritel dunia menjadi pelajaran penting bagi pemilik mall. Mereka dihadapkan pada dua pilihan: pertama, peritel berusaha mempertahankan merek mereka agar tetap eksis atau memang harus mengurangi ketergantungan mereka terhadap toko fisik.

Sumber: bloomberg

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here