RESKEU.ORG, Washington – International Monetary Fund (IMF) menyoroti utang sebagai salah satu risiko besar dalam perekonomian dunia. Bila tak diantisipasi sedini mungkin, maka negara berpotensi menuju krisis.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memastikan Indonesia beserta sejumlah negara di Asia Tenggara tak masuk dalam daftar negara yang disoroti oleh IMF. Sejauh ini utang masih dalam kategori aman.

“Dari kawasan ASEAN kita dianggap aman,” ungkap Sri Mulyani, di Kantor Pusat Bank Dunia, Washington, Sabtu (14/10/2017).

Negara yang dimaksud IMF antara lain India, karena defisit anggaran setiap tahunnya sangat tinggi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang sudah di atas 6-7% seharusnya penarikan utang bisa dikurangi.

“IMF menyoroti khusus India. Karena India itu kan defisit cukup besar, karena sampai 6% dari PDB, maka disebutkan pertumbuhan kalau tinggi harusnya bisa kurangi defisit,” jelasnya.

Brasil juga dalam sorotan, karena berencana menambah utang dalam jumlah besar demi mendorong ekonomi yang jatuh pasca anjloknya harga komoditas. Di samping juga Rusia dan Nigeria.

“Brasil yang ingin lakukan stimulasi ekonomi tapi defisit fiskal sangat besar. Sehingga membutuhkan konsolidasi juga. Jadi bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan konsolidasi dan di satu sisi stimulasi ekonomi,” terang Sri Mulyani.

Deretan negara tersebut bisa masuk ke jurang krisis bila tidak ada penanganan lebih cepat.

“Secara umum dengan likuiditas yang banyak dengan suku bunga yang rendah, ada berapa negara yang muncul eksesif private debt melonjak tinggi banget,” paparnya.

“Itu kelihatan di beberapa negara yang tadi disebutkan dan oleh karena itu ini muncul sebagai risiko. Kalau nanti suku bunga secara cepat dan kalau nanti ada sentimen capital outflow maka negara-negara ini akan mengalami vulnerabilities yang menjadi sangat besar,” kata Sri Mulyani.

Selain utang pemerintah, sorotan lain ditujukan kepada utang rumah tangga. Seperti kartu kredit.

“Tadi juga disebutkan dalam IMFC ( the International Monetary and Financial Committee), negara yang pertumbuhan ekonomi didorong oleh utang rumah tangga, seperti credit card dan segala macam. Kemungkinkan akan mengalami koreksi cukup besar, sekitar 1,7%. ini salah satu dijadikan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here