JAKARTA-RESKEU.ORG, Sejak 2014 Bank Indonesia telah memanfaatkan big data sebagai sumber informasi untuk peningkatan ekonomi rakyat. Big data sangat kompleks sehingga dibutuhkan kemampuan teknik algoritma analitik tertentu untuk mengelolanya untuk memperoleh data tertentu.

Dengan pemanfaatan big data tersebut diharapkan bisa memperkuat proses pengambilan keputusan bank sentral, baik dalam sektor moneter, pasar keuangan, stabilitas sistem keuangan (SSK), sistem pembayaran, dan pengelolaan uang rupiah.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengaku, terdapat tiga tantangan utama untuk mengelola big data. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data.

Menurutnya, ketersediaan akses data secara real-time merupakan basis utama perumusan kebijakan tepat sesuai situasi terkini. Namun di sisi lain, aksesibilitas data pasti berbenturan dengan aspek kerahasiaan data.

Oleh karena itu, perlu mekanisme untuk menjembatani kepentingan pemilik data agar bersedia untuk sharing data tanpa menimbulkan kekuatiran akan aspek kerahasiaannya.

Kedua, kualitas data. Menurut Agus, salah satu karakteristik big data, yaitu veracity (keyakinan akan kebenaran data), mengingat informasi yang terkandung dalam big data merupakan data mentah yang masih banyak mengandung noise. Bercampur data-data tidak penting lainnya.

Cleansing data diakuinya menjadi hal terpenting yang harus dilakukan guna memastikan data yang diperoleh bernilai sebagai acuan analisis data lebih lanjut.
Ketiga, keterbatasan sumberdaya manusia (SDM) dengan kualifikasi data scientist. Revolusi digital saat ini menurut Agus, belum diimbangi dengan kecukupan keluaran perguruan tinggi yang memiliki keahlian memproses big data.

Oleh sebab itu perlu kolaborasi erat pemerintah dengan dunia akademisi agar kapabilitas Big Data dapat juga dibangun secara bertahap di internal institusi.

(ADM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here